Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali diingatkan pada salah satu ibadah sunnah paling berbobot dalam setahun: Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram). Dua hari yang tampak biasa di kalender, namun tersimpan di dalamnya rahmat, pengampunan, dan sejarah yang sarat makna.
Hari yang Dimuliakan Sejak Zaman Para Nabi
Hari Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Islam. Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, kaum Yahudi di Madinah telah berpuasa pada 10 Muharram sebagai bentuk syukur atas diselamatkannya Nabi Musa AS beserta Bani Israil dari kejaran Fir’aun di Laut Merah.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mendapati tradisi tersebut, beliau bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Lalu beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa. Namun, Rasulullah tidak ingin umat Islam sekadar mengikuti tradisi kaum lain — beliau menginginkan identitas tersendiri.
Para ulama menegaskan bahwa Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimaksud dalam ayat tersebut — bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di dalam bulan yang dimuliakan Allah ini, segala amal kebaikan memiliki bobot yang berlipat.
Jadwal Puasa Tasu’a & Asyura 1448 H
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang ditetapkan Kementerian Agama RI, berikut jadwal pelaksanaannya:
Apa Itu Puasa Tasu’a dan Asyura?
9 MuharramPuasa Tasu’a
Tasu’a berasal dari kata Arab yang berarti “kesembilan.” Puasa ini dilaksanakan sehari sebelum Asyura, dan menjadi pembeda antara ibadah umat Islam dengan tradisi puasa kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10.
Rasulullah SAW bahkan pernah menyatakan keinginan beliau: “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).” (HR. Muslim). Sayangnya, sebelum Muharram tahun berikutnya tiba, beliau telah kembali ke hadirat Allah SWT. Maka puasa Tasu’a menjadi warisan niat mulia yang kita teruskan.
10 MuharramPuasa Asyura
Asyura artinya “kesepuluh.” Inilah puasa utama yang paling dikenal — ibadah dengan keutamaan pengampunan dosa yang disebutkan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadis shahih.
Yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar tetap membutuhkan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Meski demikian, ini merupakan karunia yang sangat besar — satu hari puasa menjadi penebus atas kelalaian selama setahun penuh.
Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.
6 Keutamaan Puasa Tasu’a & Asyura
Dari berbagai sumber hadis dan penjelasan ulama, berikut keutamaan utama yang menjadikan dua puasa ini sangat istimewa:
Niat Puasa Tasu’a & Asyura
Niat dapat dilafalkan sejak malam hari hingga sebelum masuk waktu zawal, dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak waktu Subuh.
Meraih Berkah Muharram, Lebih dari Sekadar Berpuasa
Puasa Tasu’a dan Asyura bukan sekadar menahan lapar dan dahaga selama sehari. Ia adalah cermin dari jiwa seorang Muslim yang selalu rindu bertaubat, merindukan ampunan Allah, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru ini.
Di sisi lain, semangat berbagi di bulan Muharram juga menjadi bagian tak terpisahkan dari spirit hari-hari ini. Sebagaimana Allah menyelamatkan Musa AS dan mengangkat derajat orang-orang yang tertindas, semangat yang sama seharusnya mendorong kita untuk turut meringankan beban saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan.
Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita di bulan Muharram yang penuh keberkahan ini. Selamat menunaikan Puasa Tasu’a dan Asyura — semoga menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa dan dibukanya lembaran baru yang lebih bersih. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.